5 Alasan kenapa usahamu bisa hancur oleh hutang

Selain tetap dengan rutinitas menjalankan usaha saya, 2 tahun belakangan ini waktu saya juga lebih banyak habis dengan bekerja di salah satu perusahanaan financial technology terbesar di Indonesia, juga sebagai kontributor pada sebuah lembaga non-profit yang membantu memberikan akses mentoring secara gratis pada pelaku usaha.

2 pengalaman baru ini tentu saja menjadikan saya mengenal lebih banyak orang terutama kalangan pelaku usaha yang memberikan saya banyak sekali pelajaran didalamnya.

Dalam kebangkrutan sebuah perusahaan, biasanya ada dua penyebabnya:
1. Sang owner mempailitkan atau perusahaan tersebut dituntun pailit oleh perusahaan lain karena tidak bisa membayar hutang.
2. Perusahaan tidak mampu membayar gaji serta operasional agar usaha tetap bisa berjalan.

Penyebab nomor 2 ini cenderung sangat jarang terjadi hingga mengakibatkan kebangkrutan total, karena biasa untuk mengatasi hal ini perusahaan bisa saja melakukan down sizing agar usahanya lebih ramping sehingga biaya operasional lebih rendah.

Penyebab nomor 1 atau karena adanya tunggakan hutang merupakan penyebab terbesar sebuah perusahaan mengalami kebangkrutan total. Ini adalah mimpi buruk bagi setiap pengusaha.
Saya sendiri pun pernah mengalami kondisi ini, tepatnya dipenghujung tahun 2014, saat itu usia saya 20 tahun. Saya terpaksa menutup usaha refleksi yang beroperasi di 3 mall di Jakarta.

Disaat seperti ini biasanya yang kita lakukan adalah, melakukan evaluasi. Mencari tau “apa yang salah”. Kemudian biasanya yang kita lakukan adalah mencari pencerahan di sosial media, dan biasanya kita akan sampai pada konten tentang “Riba”.
“Aha.. Ini dia penyebabnya.” Begitulah yang saya yakini.

Tapi tunggu dulu, benarkah hanya itu? Kemudian, mari kita berkhayal, bagaimana jika pada saat itu uang yang datang adalah hutang dengan embel-embel syariah, dengan label bebas riba, dengan nominal yang sama. Renungkan kembali, dengan cara pengelolaan yang sama, sistem yang sama, tujuan dan spekulasi yang sama, apakah itu akan berjalan mulus? Saya rasa tidak.

Disadari atau tidak, kita sebagai manusia memiliki kecendrungan untuk melemparkan kesalahan. Maka dari itu, bertemu dengan konten tentang Riba di masa-masa terpuruk terlilit hutang adalah bagaikan menemukan sebuah kunci dari rasa penyesalan kita yang belum terpecahkan.

“Nah.. ini nih. gara-gara ini nih. Lo sih ( Bank misalnya ) bikin bisnis riba. makanya gue melarat sekarang. gue mah gak salah-salah banget. .

Nyalahin orang lain atau faktor lain atas kegagalan kita, yaa memang menyenangkan.
Padahal dibalik itu, mungkin saja ada banyak kesalahan lain yang sebenarnya turut menghantarkan kita pada kebangkrutan itu, misalnya; keserakahan, manipulasi data, tipu tipu, spekulasi tanpa analisa ( gambling ) dll.

Tentu saja, bagi kita yang mengimani, riba adalah salah (haram). Namun pada tulisan ini, saya mengajak agar kita berfikir lebih luas, menyadari kesalahan dalam diri, agar kesalahan terdahulu tidak terulang lagi.

Dan berikut ini adalah mengapa saya mengajak agar sebaiknya berbisnis tanpa hutang. Bahkan hutang syariah sekalipun.

  1. Hutang Menciptakan Mental Block
    Ini adalah ajaran yang saya dapatkan dari seorang guru bagi banyak Enterpreneur di Indonesia. Dialah Jaya Setiabudi. Seseorang dengan keterikatan hutang, cenderung menciptakan mental blok dalam fikirinnya. Mereka akan jadi terfokus pada setoran bulannya. Mimpi-mimpi liar mereka kini menjadi seolah ada tembok pembatasnya.
  2. Tujuan yang salah
    Dimomen-momen awal merintis usaha, kita tentu senang ketika usaha kita mulai berkembang. Biasanya disaat ini muncul angan-angan untuk menjadikan usaha ini lebih besar lagi ( scale up ). Tentu saja ini adalah insting alami seorang pengusaha. Namun, banyak pengusaha yang tak sabar, sehingga berspekulasi dengan cara berhutang dengan yakin bahwa dengan cash yang lebih besar, usaha ini akan lebih cepat berkembang.
    Pelajaran pertama yang perlu kita ingat adalah berhutang untuk spekulasi adalah bunuh diri. Tak ada bedanya dengan judi.
    Scale up usaha hanya boleh dilakukan dengan omzet yang dihasilkan oleh usaha kita.
    “jika ada tujuan yang salah, berarti ada tujuan yang benar?
    Ya, menurut saya ada.
    Yaitu ketika usaha kita sudah ditahap mendapatkan kontrak pekerjaan. Dimana permintaannya sudah pasti namun kondisi cash belum cukup, dan sang partner mau mengeluarkan surat tagihan yang biasa kita kenal dengan receivable financing (seperti: purchase order, spk, kontak), dan lebih baik lagi jika berupa invoice financing. Saat ini sudah banyak lembaga pembiayaan yang bisa mengakomodasi keperluan tersebut. Dengan skema pembayaran bullet payment (seluruh pembayarannya dibayarkan di akhir). Contohnya: anda mendapatkan kontrak pengadaan catering 100.000 box dari dinas sosial. Tapi mereka minta pembayaran dibelakang. Dan dinas sosial mengeluarkan SPK dengan janji dibayarkan sepenuhnya 2 bulan setelahnya. Anda bisa meminta fasilitas pembiayaan bullet payment sesuai kontrak dengan keseluruhan pendanaan / investasinya dibayarkan di akhir ( seteleh pekerjaan anda di bayarkan ). Tentunya jika kita miliki preferensi anti riba, pilihlah lembaga syariah yang menawarkan produk bebas riba. Dan tentu saja kita juga harus tertib, jika sudah dibayar ya disetorkan, jangan gatal dipakai untuk yang lain-lain.
    Kesimpulannya adalah, jangan pernah berhutang/mencari suntikan dana dengan tujuan spekulasi. Sedangkan saya pribadi masih berpandangan jika tujuan suntikan dana untuk menyelesaikan kontrak pekerjaan yang nilai dan waktu pembayarannya sudah dipastikan, itu masih lebih baik.
  3. Manipulasi
    Sebelum saat kita nangis-nangis meratapi hidup yang harus terjun kelilit hutang dan menyalahkan terjebak dalam skema riba perbankan apakah kita pernah berkaca bagaimana proses awal kita mendapatkan fasilitas kredit tersebut?
    Apakah laporan keuangan yang kita serahkan adalah laporan yang sebenar-benarnya? tidak melakukan window dressing? bagus-bagusin angka, ngasi “uang rokok” ke kredit analis. Tanyakan lagi pada diri kita. Jika, Ya! artinya kita sebelumnya telah memaksakan sesuatu yang sebenarnya kita belum layak untuk itu.
  4. Penggunaan yang tidak semestinya
    Kebanyakan orang, kegirangan ketika pinjamannya telah dicairkan. Ini membuat apa yang semula direncanakan jadi buyar. Dan pada akhirnya, baik sebagian kecil atau sebagian besar dana tersebut digunakan tidak seusai pada tujuan awalnya. Alih-alih uangnya digunakan untuk mengembangkan usahanya, ehhh malah buat beli barang-barang konsumtif. Belum lagi kalau kabar pinjamannya cair tersebar ke kolega-koleganya. Mulai pada berdatangan, dari yang minta traktir sampai pinjam untuk kebutuhan ini itu. Makin gak jelas deh itu duit larinya kemana.
  5. Gagal kelola karena minim pengetahuan
    Ya ini memang adalah bagian tersulit menjadi seorang pebisnis, mau gak mau kita memang harus belajar terus. Ada istilah ” Investasi otak jauh lebih penting dari pada uang itu sendiri “ yang artinya, seseorang kalau di kasi banyak duit, tapi memang pengetahuannya gak mumpuni untuk mengelolanya, ya ujung-ujungnya hancur juga. Apalagi ini uang orang (hutang). Masalah pengetahuan ini memang sulit, tidak ada ukuran baku untuk menentukan seseorang dengan pengetahuan seperti apa yang layak atau tidak layak didanai. Tapi ini adalah seperti apa yang saya sampaikan diawal bahwa tulisan ini mengajak kita agar jangan buru-buru nyalahin faktor diluar diri kita. Karena penyebab awalnya adalah diri kita sendiri. Beberapa tahun setelah saya bisa survive kembali, saya merenungi kembali masa-masa terburuk yang saya lewati, oh ternyata dulu saya gak baca data dengan benar, gak melakukan pembukuan secara tertib, gak melakukan pemasaran secara efektif, gak memperkaya pengetahuan saya dengan literasi keuangan. Yang mana sejak itu saya sadar, bahkan seandainya didunia ini tidak pernah ada “Riba”, dengan ngulang pola yang sama, saya tetap akan gagal juga.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *